Kamis, 14 Juni 2012

resensi novel


RESENSI NOVEL “KAU, AKU, DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH”, TERE-LIYE
Oleh: Aminatur Rohmah
·         Judul               : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
·         Pengarang       : Tere Liye
·         Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
·         Tahun terbit     : 2012
·         Tempat terbit   : Jakarta
·         Tebal               : 512 Halaman
·         Ukuran            : 13.5 x 20 cm
·         Ilustrasi buku   : putih, coklat lembut, coklat kehitaman, tulisan judul berwarna putih, warna dasar merah lembut, disertai gambar wanita berpayung dan sepit-sepit berjejeran di tepi sungai.

Tere-Liye ialah penulis berbahasa indonesia. Menurut informasi dari dunia maya, Ia adalah penulis yang tidak terlalu menunjukkan informasi pribadi. Novel-novel karya Tere Liye di antaranya Ayahku (bukan) Pembohong, Moga Bunda disayang Alloh, Senja bersama Rosie, Bidadari-bidadari Surga, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dsb.
Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ialah novel tentang perjalanan cinta tapi dengan kadar yang pas. Dalam arti tidak terlalu melo dan tidak terlalu keras. Novel dengan desain sampul lembut ini tampaknya mampu menyihir pembaca untuk terus dan terus membuat penasaran mengetahui kelanjutan ceritanya. Mantra cinta pastilah selalu berhasil untuk membuat orang lain tertarik.
Cerita cinta penuh perjuangan ini bermula dari pertemuan seorang pemuda Pontianak bernama Borno dengan seorang gadis cantik keturunan cina. Dengan latar sungai kapuas dan media sepit lah mereka bertemu dan kisah itu pun di mulai.
Borno, setelah lulus SMA, Ia tidak meneruskan sekolah yang lebih tinggi. Ia memilih untuk lansung mencari pekerjaan. Bukan karena tidak ingin, namun rupanya keadaan tak mengijinkannya untuk kuliah dulu. Berbagai jenis pekerjaan telah Ia lakoni, mulai dari karyawan pabrik karet, penjaga gerbang masuk untuk penumang kapal very, penjaga tempat bensin mengapung, hingga menarik sepit. Sepit adalah perahu bermesin, dalam novel tersebut sering di sebut motor tempel. Awalnya Borno tidak mempunyai niat untuk bekerja sebagai seorang penarik sepit, namun pada ujungnya Ia memilih pekerjaan itu juga. Para orang-orang dekat yang peduli seperti ibunya (ayahnya sendiri sudah cukup lama meninggal sebelum Borno lulus SMA), Cik Tulani, Koh Acong, Pak Tua, Bang Togar, dan penarik sepit lainnya telah besepakat untuk membelikan Borno sepit pribadi.  Tapi Borno tidak mengetahui rencana hebat itu, bisa di bilang ini merupakan suatu kejutan untuk pria baik seperti Borno. Sepit itupun telah di hias sedemikian rupa dan tak lupa di cantumkan nama pemiliknya “Borneo” , .
Sebelum resmi menjadi seorang penarik sepit, Borno pernah mencoba peruntungan dengan menjadi penjaga gerbang masuk penumpang kapal very, mendengar hal itu, bang Togar yang memang seorang yang keras, sangat menentang keputusan Borno untuk bekerja di situ, dengan alasan bahwa bisnis kapal very adalah momok dan layaknya di perlakukan sebagai musuh bebuyutan, bukannya malah mencari nafkah di tempat itu. Sejarahnya sejak adanya kapal very, penumpang sepit jadi turun drastis, hal itu tentu membuat para pengemudi sepit kalang kabut. Bahkan bang Togar sampai mengancam Borno tidak boleh naik sepit untuk berangkat kerja menuju gerbang masuk kapal very itu. Terpaksa Ia harus naik opelet yang akan memakan waktu lebih lama. Tak tanggung-tangguh, bang Togar memasang foto Borno di dekat dermaga dengan pengumuman bahwa yang wajah yang ada di foto tersebut bernama Borno dan dia ialah seseorang yang dilarang keras untuk menumpang sepit. Kejutan itu telah memunculkan efeknya. Wajah Borno kini di kenal banyak orang, mengingat cukup banyak orang yang lalu lalang di dermaga.
Hari pertama menarik sepit, Ia mendapat penumpang seorang gadis sendu menawan dengan memakai baju kurung kuning, gadis itu tanpa ragu duduk di barisan paling depan. Itulah awal mula terjadinya cerita inspiratif antara Borno dan gadis baju kurung kuning bernama Mei. Ketika Borno hendak menyelesaikan hari pertamanya bekerja sebagai penarik sepit, tidak sengaja ia menemukan sebuah amplop berwarna merah yang masih rapi. Dia pikir itu pasti barang penumpang yang tertinggal. Ia menanyakannya pada petugas timer yang mungkin saja menyadari barang milik siapa ini yang tertinggal. Setelah berbincang-bincang untuk mencari tahu, akhirnya mereka sampai pada kesimpulan kalau amplop merah seperti angpau itu tak lain adalah milik gadis baju kurung kuning yang duduk paling depan. Karena amplop itu memang tertinggal di bangku paling depat sepit. Mengetahui hal itu Borno telah di lingkupi bayang-bayang gadis baju kurung kuning dan berniat untuk mengembalikannya.
            Hari demi hari ia lewati untuk menunggu saat-saat dimana ia bisa bertemu gadis baju kurung kuning itu. Sayang, nasib tak begitu berpihak pada nya. Rasa penasaran yang tak kunjung terjawab membuatnya cukup jera. Hingga suatu hari dimana sorang petugas timer memberitahu bahwa ia melihat gadis baju kurung kuning tengah membagi-bagikan angpau. Setelah susah payah untuk menemui gadis itu, akhirnya ia menemukan jawabannya. Dia berasumsi kalau angpau yang tertinggal itu hanyalah angpau biasa yang sengaja di bagi-bagikan oleh gadis itu. Borno agak kecewa dengan kenyataan itu, awalnya ia berharap itu bukan angpau biasa.
            Waktu itu kisah pembagian angpau itu Borno belum mengetahui nama gadis baju kurung kuning itu, . setelah seringnya  Mei naik sepit Borno, Borno pun memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol dan mencaritahu namanya. Dari pertemua pertama itu telah berlanjut ke pertemuan berikutnya. Semakin lama Borno semakin mengenal sosok Mei.
            Sebagai layaknya pria biasa, wajar bagi Borno untuk jatuh cinta kepada seorang gadis. Ya,, gadis baju kurung kuning yang telah sangat menyita perhatiannya hingga ia begitu galau. Rupanya perjalanan cintanya cukup rumit. Mulai dari sikap sikap ayah Mei yang kurang bersahabat ketika Borno ke rumahnya Mei, sampai Mei yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak bertemu lagi dengan Borno tanpa alasan yang jelas.
            Pak Tua yang perannya sangat penting bagi cerita cinta Borno juga tak henti-henti memberi petuah berguna, malah kadang sengaja menggodanya yang tahu kalau Borno memang lagi kacau karena sorang gadis. Waktu masa magang Mei di yayasan habis, ia kembali ke surabaya. Ia memang dari pontianak, tapi entah dengan alasan apa sekeluarganya pindah ke surabaya. Mendengar kalau Mei sudah tidak mengajar lagi, Borno kemudian merasa galau.
            Entah karena kebetulan atau bagaimana, Pak Tua yang sedang mengalami sakit tiba-tiba mengajak Borno ke surabaya untuk terapi. Tanpa pikir panjang Borno ngikut saja. Setelah menempuh perjalanan cukup lama dengan kapal, akhirnya mereka sampai di surabaya. Pas sudah sampai di rumah sakit tempat Pak Tua terapi, ia menemukan cara cukup konyol untuk mencari keberadaan Mei. Dengan menelepon berbagai nomor dengan pemilik bapak sulaiman. Berkali-kali mencoba namun selalu gagal. Malah tanpa sengaja, di dekat telepon umum, tanpa sengaja tanpa di duga ia bertemu dengan Mei. Mei yang menyapa duluan, kebetulan neneknya juga sedang terapi di rumah sakit itu. Setelah peremuan itu mereka berbincang-bincang, namun Borno lebih banyak diam, entah apa yang dia rasa. Pak Tua yang sadar selalu menggodanya. Mei berencana menemani Borno dan Pak Tua keliling surabaya pada hari berikutnya. Dengan cuaca yang redup di sertai gerimis, mereka memulai berkeliling. Nah, dari petualangan singkat menyusuri kota surabaya itulah Borno dan Mei mengetahui apa arti cinta itu sebenarnya. Pak Tua mengajak mereka menemui teman lamanya yang sepasang suami istri yang telah renta, pasangan yang sama-sama tuna netra. Dari pasangan itu dapat di petik sebuah pelajaran. Mereka tak dapat melihat.  Namun mereka telah memberi contoh suatu cerita cinta yang sangat patut untuk di contoh. Mereka saling mengerti, mereka setia. Tak pernah membual tentang kata-kata cinta yang bombastis. Pak Tua pernah memberi petuah tentang cinta. Cinta adalah perbuatan. Dan teman lama Pak Tua yang di umpamakan si fulan dan si fulani telah memberi contoh. Seorang buta yang memaknai cinta dengan perbuatan. Tak butuh kata-kata tidak penting. Karena perbuatan yang akan mengukirnya. Mereka membuktikannya. Dengan kisah yang penuh perjuangan juga, bahkan pasangan itu pernah berpisah, hilang kontak selama beberapa waktu karena suatu krisis pada masanya. Nasib baik menghampiri mereka setelah berkali-kali mengalami masa-masa kelam.
            Untuk menerapkan cinta adalah perbuatan mungkin sulit di jaman sekarang. Dan kadang, dan lagi-lagi tak selamanya cinta bermakna negatif. Tampaknya Borno dan Mei meresapi kisah itu. setelah semua urusan telah beres, mereka pulang.. ketika sudah saatnya Borno dan Pak Tua kembali ke pontianak, mungkin ada rasa tidak rela untuk Borno, pria itu tentu masih ingin menemui Mei.
            Ketika sudah kembali ke pontianak, Borno menjalani hari-hari nya seperti biasa. Menarik sepit, bertemu ibu lagi, bertemu bang togar dan pengemudi sepit lainnya. Tanpa Mei, hidupnya seperti bola putih polos, hampa dan selalu terasa ada yang kurang. Suatu saat yang tidak Borno duga, Mei muncul kembali. Tidak tahu apa yang terjadi, Borno masih cukup heran namun bercampur bahagia karean pujaan hatinya berada di pontianak lagi. Mei kelihatannya menyukai profesinya mengajar di suatu yayasan. Dan dia kembali mengajar lagi.
            Di pertengahan perjalannya menjadi pengemudi sepit, rupanya Borno mempunyai kemampuan lain yang tak kalah oke, dia begitu cepat memahami tentang mesin, cepat menjadi ahli. Ayah Andi (Andi adalah kawan dekat Borno) meminta Borno untuk bantu-bantu menyelesaikan pekerjaan di bengkel nya. Setelah melewat berbagai kisah yang cukup menyita pikiran dan menguras emosi, akhirnya ayah Andi dan Borno memiliki bengkel sendiri yang lebih besar. Borno semakin ahli, Andi yang semula selalu menggerutu karena iri sekarang lebih bersemangat untuk menjadi asisten Borno. Di tengah-tengah kebahagiaan itulah hal mengejutkan datang secara tiba-tiba. Mei datang di bengkel Borno dan memberi kabar sesuatu. Mei membuat keputusan agar bang Borno tidak menemuinya lagi. katanya dengan tidak bertemu lagi adalah keputusan yang baik. Borno tidak mengerti, setiap ingin mencari tahu, Mei menghindar. Tidak mau menjelaskan apa alasannya. Dengan berbagai cara Borno berusaha menggali informasi. Mulai dari datang ke yayasan tempat Mei mengajar, sampai kerumahnya di pontianak yang di jaga oleh bibi Mei. Karena Mei selalu menghindar, Borno sering menuliskan uneg-unegnya dengan menulis sepucuk surat. Namun balasannya tak kunjung jelas mengapa Mei tiba-tiba membuat keputusan tanpa alasan yang jelas itu.
            Bibi Mei yang merasa perlu membantu meskipun tidak di beri kewenangan untuk mengurus kisah cinta rumit mereka, akhirnya memutuskan untuk ambil tindakan. Bibi Mei memberitahu Borno dari Mei yang sudah mau kembali lagi ke surabaya. Memberitahu Borno tentang angpau merah tempo hari. Mei tidak mengatakan kalau itu memang bukan angpau biasa. Isinya bukanlah uang, tapi sebuah surat penting dari Mei, begitu bibi Mei memberitahu Borno. Tanpa ba bi bu lagi, Borno langsung mencari-cari angpau itu yang sudah lama tidak di pikirkannya. dengan segera ia membuka amplop merah itu , dia baca.. dan menemukan jawabannya. Berbagai perasaan bercampur. Bingung.
            Setelah selesai plesir dari malaysia bersama Pak Tua dan Andi, Borno di kejutkan dengan kedatangan bibi Mei yang tiba-tiba dan tampaknya mendesak. Bibi Mei memberitahu kalau nona Mei sedang sakit di surabaya. Sakitnya sudah cukup lama. Bibi meminta agar Borno tidak membenci keluarganya Mei atas kesalahan yang telah di perbuat pada masa lalu. Bayangan Mei tak dapat hilang darinya. Borno ke surabaya untuk menemui Mei. Tampaknya ia tak memikirkan masa lalu lagi. Mei yang terbaring dan terlihat lebih kurus, cukup terkejut dengan kedatangan Borno. Mei meminta maaf dan Borno menjelaskan tentang perasaannya. Kalau jaman sekarang bisa di bilang ia memeberitahu kalau dia akan menerima Mei apa adanya. Memaafkan masa lalunya dan menjatuhkan hatinya pada Mei.
            Happy ending. Cerita ini memang cocok di beri judul Kau, Aku, dan sepucuk angpau merah. Kemampuan penulis memaparkan alur dengan baik merupakan nilai tambah dari novel ini selain ide cerita yang kreatif dan mungkin tidak terpikirkan oleh banyak orang. Pencerminan tokok utama yang sederhana membuat pembaca dapat memperoleh inspirasi. Perjuangan yang tak kenal lelah, entah itu kasus ekonomi maupun kasus cinta. Mampu memberi pelajaran berharga untuk pembaca.
            Novel ini mempunyai banyak tokoh-tokoh yang positif. Meskipun ada yang menyebalkan, tapi itu hanya tambahan sebagai watak alami seorang manusia biasa. Tokoh utama yang dirancang demikian baik tapi tidak terkesan di buat-buat. Dengan setting tempat yang banyak mendeskripsikan suasana kota pontianak, membuat pembaca serasa berada di tempat itu. penulis tampak begitu menguasai setiing tempat.
            Novel ini banyak terdapat ilmu kehidupan yang dapat di petik. Khususnya mungkin untuk anak muda yang masih galau mengenai arti cinta yang sebenarnya. Membaca novel ini adalah keputusan bijak. pembaca akan mengerti beberapa hal menarik dari novel ini. jika sudah mulai membaca novel ini pasti ingin terus dan terus melanjutkan membaca. Novel ini bisa membuat pembaca terus tertarik untuk membaca sampai akhir dan akan terkejut senang ketika sampai pada endingnya. Jadi, tanpa berpikir dua kali lagi atau bahkan seribu kali, bacalah novel ini. di jamin para pembaca akan mendapat pelajaran yang berharga tentang kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar