Jumat, 21 Desember 2012

cerpen hari ibu


GORESAN PELANGI UNTUK IBU...

Oleh: Rohmah Cipzz


        Malam ke lima belas pada bulan Mei ini terasa sepi.. entah hanya perasaan saja. Atau memang keadaan yang memaksa untuk terasa sepi. Satu rumah di antara rumah-rumah yang lain, tampak seorang ibu tengah terpaku memandang anak gadis semata wayangnya sedang sibuk. Sibuk dengan dunianya sendiri.
. tak pernah ibu itu merasakan tatapan si kecilnya.
“jangan sedih terus ma.. “ suara seorang laki-laki membangunkannya dari lamunan.
“eh.. ,, aku lagi serius mengamati si tari pa”
Laki-laki itu mengelus kepala nya. Beberapa detik, air mata itu pun tumpah.. namun si ibu masih berusaha untuk tidak terlihat lemah. Jika dia lemah, bagaimana dengan gadis kecilnya?..dia harus kuat..


.................


“rahma, aku punya saran untuk si kecil tari, kamu coba bawa ke tempat terapi untuk anak autis.. . kenalanku ada yang anaknya diterapi disana, dan sekarang sudah lebih baik.. ,. Kalo perlu nanti ku antar ke lokasinya..” sejak tahu bahwa si kecil tari positif autis, gina.. sahabat rahma dari masa kuliah, tak henti-hentinya memberi saran.
“nanti coba ku bicarakan dengan mas aji.. kalau memang itu bisa membuat si kecilku tari lebih baik dan bisa menyadari keberadaan ibu nya, aku setuju datang ke tempat terapi, mudah-mudahan mas aji  juga setuju.. makasih na”


.................


        Rahma termangu menatap rintik-rintik air hujan dari jendela ruang tengah. Disitu pula si kecil tari tengah bermain-main.. terkadang mencoret-coret kertas kosong yang di sediakan rahma dengan pensil warna. Setiap hasil coretan tari, selalu di simpannya.
Ibu muda itu mengambil hape dari meja dan mengetik pesan untuk suaminya.
To : honey
        Klau hjan sdh reda, cepetn plang ya.. aq mau mmbicarkan ssuatu ttg tari..
From: honey
        Iya... J


...............


“tadi aku ketemu gina.. ,, seperti biasa dia ngasih solusi untuk kegundahanku selama ini. dia menyarankan agar aku mendatangi tempat terapi untuk tari. Anak temannya juga autis, katanya sekarang sudah lebih baik setelah rutin melakukan terapi.. , aku setuju.. , gak masalah jika aku harus lelah. Yang penting si kecil tari bisa memanggil ku ibu” sendu rahma berbicara pada suaminya.
“mama teliti dulu kualitasnya.. kalau memang berkualitas, papa juga setuju. Tari harus dapatkan yang terbaik...”
“iya”


..................


        Sore ini, rahma sengaja mengajak si kecil tari berjalan-jalan mengelilingi taman. Si tari awalnya memberontak karena sedang tak ingin di ganggu karena masih sibuk dengan dunianya. Namun akhirnya bisa lebih tenang. Tak hanya itu, rahma juga sengaja janji ketemuan dengan gina.
“suamiku setuju asal kualitas tempat terapi itu terjamin. , “
“aku yakin banget tuh tempat bagus banget. Buktinya anak kenalanku sudah lebih baik kok, anaknya dulu juga hampir sama dengan tari.. ,, em,, bagaimana kalau ku antar sekarang? Kamu buru-buru tidak sore ini?”
“tidak.. .. tapi sudah sore,apa kamu tidak kecapek’an?”
“haduuuh... tentu saja tidak, tari sudah ku anggap seperti keponakanku sendiri. Jadi ayo, berangkat sekarang..”
Keduanya dan tari melangkah menuju mobil gina.


.................


        Sesampai di tempat terapi, ibu rahma di tanya banyak hal. Sudah pasti dia akan menjawab jujur. Apalagi kalau bukan untuk kebaikan si kecil tari.
“saya percayakan si kecil tari ku kepada ibu halimah, mohon bantuannya ya bu” suara rahma sudah lebih ceria setelah mendengar kalimat-kalimat semangat dan positif bu halimah mengenai tari yang pasti keadaannya akan lebih baik. Tanpa banyak menimbang-nimbang, rahma begitu percaya dengan bu halimah. Aura bu halimah terlihat teduh dan pancaran matanya penuh kasih sayang.
“akan sangat saya usahakan. Saya senang sekali dengan anak kecil apalagi yang secantik tari, . ibu rahma belum terlambat membawa tari ke terapi. Dan satu yang ibu terus ingat. Anak yang mempunyai keterbatasan seperti tari, tidak banyak yang dia harapkan dari hidup ini. dia hanya ingin di terima.. sebagai layaknya orang lain. Dia tak ingin di anggap terbatas bu.. , . biasanya anak seperti ini mempunyai kemampuan yang luar biasa..” bu halimah menyelesaikan kalimatnya sambil membelai rambut hitam tari.

.............


“jadi kapan bisa mulai terapi?” tanya gina penasaran, karena sejak tadi menunggu di luar.
“minggu depan sudah bisa..” rahma mengembangkan senyum.
“naah.. begitu baru sahabatku, sudah lebih ceria kan sekarang? .. optimis ya? Doaku selalu menyertai si kecil nan cantik tari” ia mencium kening tari.. yang masih tidak menyadari kehadirannya.

................

        Seperti yang di ucapkan gina berulang-ulang. Optimis! , menjadi modal rahma untuk terus semangat. Melewati hari demi hari dengan fokus mengurus si kecil tari, makin lama coretan tangan tari makin indah.. rahma berpikir apa tari juga menyukai melukis seperti suaminya. Dan senyum itu sekali lagi mengembang. Mengiringi langkahnya menuju tempat terapi. Hidup harus semakin indah...
“tari anak yang cerdas bu, kemajuannya bagus. Dia langsung antusias jika ku beri kertas kosong dan pensil warna. Ketika dia mulai mencoret-coret kertas itu, tampak dia terlihat bahagia. Sepertinya itulah yang pernah saya katakan dulu, kemampuan luarbiasanya.. hanya masalah waktu keindahan itu akan terbit, bu rahma beruntung..”
“terimakasih bu.. aku terus bermimpi, suatu saat si kecilku tari akan memanggilku ibu dengan kasih sayangnya”
“saya yakin, ada rencana indah dari Tuhan dibalik ini semua.”

...................

“jadi selain suka lukis, tari juga suka piano ya?” gina bertanya antusias
“iya... persis seperti papa nya. Suka melukis dan main piano. Setiap hari mas aji memang selalu bermain piano untuk tari. Tari selalu riang mendengarnya. Aku seneng na.”
“aku juga seneng tari sekarang ada perkembangan. , rasanya tidak sabar menunggu waktu sampai tari nanti benar-benar menjadi pelukis dan pianis hebat. Aku akan memberi tepuk tangan paling semangat nanti, tentu tante nya tidak akan kalah dengan ayah ibunya.. hiihihih”
“aamiin.. , J

..............

Tiga tahun berlalu... kemampuan tari sebagai pelukis dan pianis semakin terlihat baik. Namun rupanya, masih ada seseorang yang belum tergugah hatinya.

“sebenarnya apa yang kamu pikirkan aji, sampai kamu masih bertahan dengan anak yang seperti itu? Aku kecewa dengan istrimu. Aku sudah bilang berkali-kali, nikahi saja jesika, dia pasti bisa memberikan keturuan yang lebih berkualitas.”
Celoteh bu wahyu, ibunda aji, yang kini menjanda karena suaminya, ayah aji sudah lama tiada. Dia sering mengkritik kondisi tari. Kekesalannya pada tari dan rahma semakin menjadi ketika tari tidak sengaja memecahkan vas bunga kesayangannya. Dan tentu saja.. hal itu sangat menyakitkan untuk rahma.
“aku tidak mungkin bisa meninggalkan tari dan rahma bu,”
“ibu tidak menyuruh kamu meninggalkan mereka, tapi menikahlah lagi, sehingga aku dapat cucu yang normal, agar aku tidak malu untuk memperkelankannya pada teman-teman”
“tetap aku tak mampu bu, . aku tidak tega melakukannya. Maaf.. , “
“kamu sekarang semakin keras kepala aji, ibu kecewa”
“maaf bu”

.....................

“kamu pasti tahu apa yang ibu rasakan kan tari? Mendengar setiap kemarahannya.. “
        Sengaja, sore itu sehabis hujan rahma mengajak tari berjalan-jalan mengelilingi taman dekat rumah. Dan saat itulah.. waktu keindahan telah mulai.
“i-bu...” terbata-bata kata indah itu terucap.
        Langkah rahma terhenti.
“iya sayang? .. tari memanggil ibu?”
“iii-bbuu..” tangan tari terangkat menunjuk sesuatu kearah atas. Spontan rahma mengikuti arah telunjuk itu.. *pelangi* . rahma terdiam cukup lama, menafsirkan semuanya.. Ia paham, impian nya mendengar sang putri memanggilnya ibu kini mewujud. Meskipun hanya satu kata, namun mampu memberi beribu kebahagiaan dalam hatinya.
“terimakasih sayang...” tak mampu ia menahan haru. Menyaksikan mimpi nya bersama pelangi.
Hanya masalah waktu, keindahan itu akan terbit
END

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar